Bagaimana mengatasi stress

Bagaimana mengatasi stress

Apakah Anda sering mengalami kesulitan berkonsentrasi? Pusing sering menyerang Anda, susah tidur di malam hari, badan semakin kurus. Bisa jadi, Anda sedang dilanda stres! Stres bisa menjadi musibah yang mengkhawatirkan karena ia dapat mengancam kehidupan Anda.

Nah, apabila Anda merasakan gejala-gejala stres seperti di atas, ada baiknya segera mencari solusi atau pertolongan. Dan, agar solusi yang Anda terapkan tepat, kenali dulu apa itu stres dan penyebabnya.

 

 

Mekanisme Biologis Stres

Evolution

Sebagaimana dikemukakan oleh Melhuish, ahli medis yang mencurahkan perhatiannya pada berbagai penyakit karena stres, stres merupakan hasil evolusi manusia selama jutaan tahun. Menurutnya, manusia purba memiliki mekanisme pertahanan terhadap ancaman dari alam sekitar. Mekanisme pertahanan ini berupa serangan atau pengelakan dari bahaya yang mengancam. Ketika menemui bahaya, yang dapat berwujud binatang buas atau bencana alam, kelenjar pituitari yang berada di dasar otak menghasilkan hormon adrenokortikotropik. Selanjutnya, hormon ini mempersiapkan kondisi sedemikian rupa sehingga kelenjar adrenal menghasilkan hormon adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini, pada gilirannya membuat detak jantung dan tekanan darah meningkat, yang mempersiapkan otot-otot untuk melakukan serangan atau berlari secara refleks. Respons tubuh terhadap ancaman inilah yang disebut stres.

Stres pada Manusia Modern

Jika mekanisme pertahanan binatang dan manusia purba berupa serangan atau pengelakan, manusia modern tidak bisa melestarikan mekanisme tersebut. Evolusi telah menggiring manusia kepada kesadaran sosial. Berbeda dengan kondisi manusia purba, kondisi kekinian menuntut masyarakat memiliki kecakapan sosial. Jika masalah yang dihadapi manusia purba mengancam segi fisik, masalah yang dihadapi oleh manusia modern lebih banyak mengancam sisi sosial dan psikologisnya.

Kecakapan sosial merupakan faktor yang membedakan manusia “normal” dari manusia yang memiliki gangguan kejiwaan. Di jaman modern ini, mekanisme pertahanan manusia bukan lagi berupa serangan fisik atau pengelakan, melainkan solusi yang berkebudayaan. Bagi masyarakat modern, stres merujuk pada ketidakmampuan seseorang untuk merespons ancaman dengan cara-cara yang berbudaya. Ketidakmampuan tersebut dapat berupa serangan fisik terhadap sumber tekanan atau pengelakan dari sumber tersebut.

Itulah mengapa, di jaman sekarang, orang yang masih menggunakan insting-insting purbanya ketika menghadapi tekanan dari luar disebut “orang stres”. Zaman sekarang, stres diidentikkan dengan kegilaan. Dalam artian ini, bisa dipastikan si penderita mengalami level stres yang berat.

Meskipun tidak selalu berupa serangan fisik, stres pada manusia modern merujuk pada respons apapun yang merugikan si penderitanya. Bisa jadi, respons tersebut berwujud ketakutan yang teramat sangat sehingga si penderita memilih menghindar jauh-jauh dari sumber stres. Atau, lebih parah lagi, si penderita menjadi pasif, bertekuk lutut di hadapannya.

 Eustres dan Distres

Menurut tingkatan dan dampaknya, stres dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, eustres. Eustres adalah stres yang masih dalam tingkatan rendah. Kemunculannya justru memberi manfaat bagi Anda. Stres ini merupakan motivasi yang baik yang mendorong Anda menghadapi sumber stres tersebut dengan cekatan. Akan tetapi, ketika cara merespons eustres salah, maka muncullah apa yang disebut distres. Distres merupakan keadaan ketika Anda tak dapat menaklukkan eustres sedemikian sehingga tubuh dan pikiran meresponsnya dengan destruktif.

 

Penyebab Stres

Dengan mengetahui definisi stres, yaitu respons yang muncul sebagai akibat dari ancaman atau tekanan, dapat dipahami bahwa penyebab stres tidak lain yaitu ancaman atau tekanan itu sendiri. Bentuk ancaman dapat berupa ancaman konkret maupun abstrak. Ancaman konkret dipahami sebagai ancaman fisik sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ancaman ini lebih sering ditemui binatang atau manusia purba. Cara mengatasi ancaman fisik ini cukup dengan respons yang juga bersifat fisik. Sementara itu, ancaman abstrak dipahami sebagai ancaman psikologis. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ancaman psikologis lebih sering dijumpai pada masyarakat modern. Sebagai contoh, ketika atasan menutut Anda untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Tuntutan tersebut dapat menjadi ancaman yang pada ujungnya dapat membuat Anda stres.

Lalu, apa saja penyebab stres yang perlu diketahui agar Anda dapat mengelolanya dengan baik sedemikian sehingga Anda dapat menghindari dampanya? Yuk, cari tahu lebih lanjut.

1. Tekanan di tempat kerja

 Rentang waktu deadline yang mencekik, tuntutan kesempurnaan hasil kerja dari atasan, dan kesulitan mengimplementasikan rencana kerja dapat menjadi pemicu munuculnya stres di diri Anda. Terlambatnya hasil dari divisi lain yang membuat Anda ikut terlambat dalam memrosesnya akan menambah tingkat stres. Stres di tempat kerja juga dapat muncul lantaran Anda harus mempresentasikan rencana kerja Anda di depan atasan dan rekan kerja. Anda juga harus memperhatikan hubungan dan persaingan dengan rekan Anda.

Penyebab stres di tempat kerja juga dapat berupa rasa bosan karena tugas yang monoton, kompetensi yang diragukan, baik oleh diri sendiri atau oleh rekan dan atasan, lingkungan kerja yang tidak nyaman dan kondusif, tanggung jawab yang tinggi yang tidak sepadan dengan pangkat atau gaji, dan masih banyak lagi.

 2. Problem finansial

Pernahkah Anda mendengar, seseorang memilih mengakhiri hidupnya lantaran kesusahan ekonomi? Atau, jangan-jangan Anda sendiri pernah mengalaminya? Saya yakin, tak jarang juga Anda menyaksikan di televisi betapa isu finansial memengaruhi kehidupan manusia. Tidak hanya menjadi penyebab bunuh diri, masalah ekonomi bahkan menyebabkan seseorang berperilaku kriminal. Banyak kasus di mana seorang pencuri terdorong melakukan aksinya karena kesulitan ekonomi. Ada juga yang nekad merampok, menjambret, dan menipu juga gara-gara masalah uang. Sungguh faktor ekonomi telah membuat banyak orang tertekan, yang selanjutnya membuat mereka stres. Stres inilah yang pada akhirnya melahirkan perilaku-perilaku yang destruktif seperti tersebut di atas.

 

 3. Hubungan personal

 

 Hubungan personal dengan seseorang, yang rumit, sulit, atau pun menemui kegagalan juga dapat menjadi tekanan yang bahaya bagi psikologis Anda. Stres dapat mucul karenanya. Dampak yang timbul dari stres karena hubungan personal biasanya berupa lemahnya kejiwaan, mudah berprasangka buruk, mudah tersinggung, merasa tertindas, dan merasa tersaingi.

 4. Hubungan sosial

 Berinteraksi dengan lingkungan, bertemu macam-macam orang seringkali membuat Anda tertekan. Anda harus menghadapi orang yang menuntut Anda untuk melakukan A, sementara hati Anda menginginkan B. Lingkungan menuntut Anda menjadi apa yang bukan diri Anda. Akhirnya, Anda pun berontak.

Kesiapan Anda menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi manakala Anda berontak memengaruhi kadar stres yang Anda alami. Semakin siap, kadar stres semakin berkurang. Sebaliknya, semakin tidak siap, kadar stres akan semakin tinggi.

 5. Penyakit

 Hati-hati! Stres bisa memperparah penyakit yang Anda derita. Karena penyakit yang tak kunjung sembuh, Anda pun mulai tertekan, entah karena penyakit itu sendiri, biaya pengobatan yang mahal, atau pikiran bahwa semakin hari sakit yang Anda derita semakin merepotkan diri dan keluarga Anda. Stres pun muncul. Akibatnya, penyakit Anda semakin parah. Stres bisa menjadi penyebab sekaligus akibat bagi penyakit Anda. Stres merupakan lingkaran setan yang dapat membunuh Anda secara perlahan!

 6. Kegagalan

 Terobsesi dengan keinginan merupakan hal yang baik. Keinginan dan impian adalah bukti kegairahan hidup Anda. Keinginan dan impian adalah sumber kehidupan Anda. Namun demikian, tidak mungkin Anda meraih impian secara instan. Hasil tidak jatuh dari langit. Orang Jawa bilang, hasil tidak diperoleh secara mak bedunduk alias cuma-cuma. Butuh waktu dan proses untuk mencapainya. Selain itu, diperlukan juga usaha yang sungguh-sungguh.

Tidak menyadari kenyataan ini akan membuat Anda tertekan dan stres manakala impian Anda tidak terwujud.

 7. Kondisi fisik dan mental

 Waspadai kondisi kejiwaan Anda karena ia dapat menjadi pemicu stres. Apabila Anda merupakan tipe pemalu atau tidak memiliki kepercayaan diri, maka Anda akan rentan mendapatkan stres. Hal tersebut dikarenakan ketika Anda bertemu dengan orang lain, ada saja sesuatu di diri Anda yang melemahkan kepercayaan diri Anda. Padahal, kehidupan menuntut Anda untuk selalu berinteraksi dengan orang lain.

Selain mental, kondisi fisik juga dapat menjadi tekanan tak tertahankan bagi Anda. kegemukan, tinggi badan yang tidak proporsional, wajah yang tidak menarik dapat menjadi teror yang mengerikan bagi Anda. Hal tersebut mungkin karena Anda menilai kondisi fisik Anda sebagai kekurangan. Penilaian seperti itu, pada ujungnya membuat Anda tidak berskyukur. Anda akan berkutat pada masalah tersebut dan menyalahkan diri sendiri karenanya.

 8. Kematian orang-orang tersayang

 Apabila Anda memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman dekat, pasangan, atau keluarga, Anda akan merasa sangat kehilangan manakala salah satu di antara mereka meninggal dunia. Banyak di antara kita yang bahkan kesulitan untuk get over it, mengikhlaskan kepergian orang-orang tercinta dan melanjutkan hidup. Kesulitan tersebut merupakan gejala stres karena tidak dapat menerima kenyataan bahwa salah satu orang terkasih telah tiada.

Menghilangkan atau Mengelola Stres?

Sebagai insting yang lumrah dan musti dialami oleh setiap manusia, stres tidak dapat dihilangkan secara permanen. Menghilangkan stres secara permanen sama artinya berupaya untuk menghilangkan satu sisi kemusiaan kita. Tentu saja hal itu mustahil dilakukan.

Mungkin Anda akan bertanya, “Jika demikian, bagaimana saya  mengantasi stress ?Meskipun stres tidak dapat dihilangkan secara permanen, bukan berarti Anda tidak dapat mengatasi masalah-masalah yang diakibatkan olehnya. Anda masih dapat menghindari dampak-dampak stres dengan cara mengelola stres dengan baik.

Kehidupan merupakan ujian tanpa akhir. Sukses dan gagal tergantung bagaimana Anda merespons ujian tersebut. Terkadang Anda meresponsnya secara positif, tapi tak jarang pula reaksi Anda negatif sehingga Anda pun terjangkiti stres. Wajar, karena kemampuan Anda merespons ujian tergantung pada kondisi Anda.

Satu yang wajib disyukuri, sebagai manusia, Anda dibekali kehendak bebas yang memungkinkan Anda untuk merubah nasib dan perjalanan hidup. Stres adalah bakat alami Anda, demikian juga kehendak bebas. Maksimalkan kehendak bebas Anda agar dapat mengontrol dan mengelola stres sedemikian sehingga menjadikannya motivasi untuk meningkatkan produktifitas.

Mungkin salah satu cara yang perlu dilakukan ialah mendekatkan diri pada Allah,  dan berusaha   untuk menerima segala  kejadian baik maupun buruk karena semua pasti ada hikmahnya, kita juga bisa berdiskusi kepada seseorang yang mungkin bisa meringankan beban kita .

Mudah 2an kita bisa belajar mengelola stress dan tidak terhanyut pada stress dan tetap bisa menjadikan hidup ini penuh dengan kebaikan.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply