by

Berburu Makanan Muslim di China

Secara tradisional, makanan Muslim di China memiliki ciri tersendiri sesuai dengan asal usul wilayahnya, meski pada umumnya menggunakan bahan dasar yang sama yaitu kambing dan domba. Muslim China di Utara sangat tergantung pada daging, baik sapi, kambing maupun domba, namun jarang menggunakan bebek, angsa, ikan, udang atau hewan laut lainnya.

Sedangkan Muslim China di Selatan sebaliknya, banyak menggunakan bahan dasar berupa bebek dan hewan laut lainnya. . Perbedaan tersebut pada dasarnya tidak terlepas dari ketersediaan bahan baku masakan. Sesuai letak geografis dan iklim setempat, peternakan hewan di Utara tumbuh subur dan karenanya daging mudah didapat. Sebaliknya, bebek, angsa, dan hewan laut mudah didapat di wilayah Selatan.

 

Adapun beberapa makanan Muslim yang lazim dijumpai di restoran China di berbagai kota di China antara lain lamian, kebab, suan cai, dan roti

 

Lamian adalah mie beras berbentuk panjang, yang biasanya dibuat langsung ketika hendak disajikan. Mie beras yang baru saja dibentuk disajikan dalam didalam sebuah mangkut, disiram kuah panas disertai irisan daging sapi atau domba dan ditambah potongan tomat. Kuahnya yang panas dan berbumbu dasar bawang putih menjadikan sajian lamien terasa menyegarkan. Secara keseluruhan hidangan Lamian ini mirip menu mie ayam berkuah di Indonesia. Di Beijing, restoran yang terkenal dengan menu lamian adalah Western Mahua Restaurant yang buka 24 jam. Restoran ini terdapat di beberapa lokasi di Beijing seperti di Wangfujing yang berdekatan dengan Tiananmen dan Forbidden City. Selain itu terdapat pula di Baijiazhuang Road(3rd ring), tidak jauh dari kantor KBRI Beijing.

 

Makanan Muslim lainnya yang juga dikenal adalah kebab atau Chuanr yang merupakan makanan khas suku Uyghur dari Xinjiang berupa roti kebab yang dimakan bersama dengan kari daging sapi atau domba. Kebab yang terbuat dari gandum ini bisa dikatakan merupakan makanan pengganti nasi. Dan sebagai menu spesial yang paling digemari adalah sate kambing atau domba. Berbeda dengan sate di Indonesia yang irisannya kecil-kecil dan ditusuk batang bamboo kecil, maka sate di restoran Muslim di China umumnya dalam bentuk potongan besar-besar dan ditusuk dengan batang bambu yang besar dan panjang atau dengan sebatang besi panjang. Sebelum dibakar, daging dilumuri bubuk cabai kering sehingga saat dibakar memunculkan aroma khas yang langsung mengundang selera makan.

 

Masih soal menu makanan Muslim berbahan daging adalah daging domba rebus yang dimakan dengan kecap dan ditawuri cabai kering. Yang unik, pada menu ini disediakan pula sebongkah bawang putih mentah yang mungkin dimaksudkan untuk mentralkan dan mengurangi tekanan darah tinggi yang mungkin muncul akibat makan daging kambing atau domba

 

Di samping makanan yang berbahan daging, di Beijing terdapat pula makanan yang berbahan hewan laut seperti ikan, udang, kerang, kepiting dan lain-lain. Ikan biasanya disteam menggunakan kecap asin dicampur bawang putih atau dimasak dengan santan kental ditambah irisan cabai merah (mirip hidangan sup ikan di Indonesia).

 

Dan last but not least, yang tidak kalah seru adalah mencicipi daging burung dara goreng. Daging burung dara berukuran besar dipotong menjadi 4 bagian dan disajikan hangat. Dimakan dengan cara mencocolkannya ke cabai kering yang sudah dicampuri garam halus. Rasanya sedap dan melekat di lidah. Maknyus kalau kata Bondan Winarno. Di Beijing, restoran yang menjual makanan khas hidangan laut dan burung dara goreng adalah Dalian Restaurant. Selain menu makanannya yang khas, restoran ini punya penampilan yang unik yaitu semua pelayannya, termasuk kasir, mengenakan pakaian seragam layaknya pramugari pesawat terbang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed