Guru Umat dan Cicit Rasulullah

Guru Umat dan Cicit Rasulullah

Dicinta umat berkat keluasan ilmunya.

Nama lengkapnya Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ia adalah cicit Rasulullah SAW. Ia dilahirkan di Makkah, tapi banyak berkiprah di Madinah. Ayahnya menjadi Gubernur Madinah pada masa Khalifah Ja’far al-Manshur. Masa kepemimpinannya tak berlangsung lama sebab terjadi friksi politik. Hasan diasingkan ke Baghdad dan semua kekayaan nya di sita.

Keluarga Hasan bersabar menghadapi ujian. Nafisah turut bersama ayahnya di pengasingan. Ketika tampuk kepemimpinan berpindah ke tangan al-Mahdi, Hasan dibebaskan dari hukuman dan seluruh hartanya dikembalikan. Nafisah telah menghafal al-quran sejak kecil. Ia juga mendalami ilmu tafsir dan menjadi perawi hadis. Beberapa imam mahzhab, seperti imam syafi’I dan imam Ahmad bin Hambal pernah meriwayatkan hadis dari dia.

Nafisah adalah perempuan salehah dan zuhud. Ia menikah dengan anak pamannya yang bernama al-Mu’tamin Ishaq bin Ja’far. Dalam buku 150 perempuan shalehah disebutkan, Nafisah berhaji sebanyak 30 kali. Ketika hajinya yang ke-30, ia dan suaminya pergi ke Baitul Maqdis. Ia mengunjungi makam nabi Ibrahim AS. Pada Ramadhan 193 H, suaminya pergi ke Mesir. Kedatangan mereka di Mesir mendapatkan sambutan dari masyarakat. Awalnya, ia singgah di rumah seorang pedagang besar bernama Jamaluddin Abdullah bin Jashjash. Ia adalah seorang yang taat dan baik hati. Dirumah itu ia menetap selama sebulan. Orang-orang dari berbagai penjuru berdatangan untuk mendapat berkah dan ilmu darinya.

Kemudian, dia pindah ke tempat yang diberikan oleh pemimpin Mesir pada masa itu, as-Siri bin Hakam. Nafisah tinggal dengan seorang anak perempuan Yahudi yang tertimpa musibah dan di tinggalkan oleh ibunya kepada Nafisah. Melalui perantara Nafisah, anak tersebut sembuh atas kehendak Allah SWT. Ketika itu pula, anak perempuan itu beserta ayahnya memeluk islam. Langkah ini diikuti oleh penduduk sekitar, hingga mencapai 70 orang. Kabar itu tersebar dan membuat semakin banyak orang datang kepadanya. Mereka meminta Nafisah tinggal di Mesir , tetapi ia menolak. Ia berkata, ” aku adalah perempuan lemah. Aku disibukkan oleh mereka dari beribadah. Tempatku juga sudah tidak cukup untuk menampung orang sebanyak ini.”

Selama hidupnya, Nafisah sering menangis dalam shalat malamnya. Ia juga senang berpuasa di siang hari. Ia hanya makan sekali dalam tiga hari. Suatu hari ia di tanya “Tidakkah engkau mengasihi tubuhmu?”. Ia menjawab , “bagaimana bisa aku mengasihi tubuh ini, sedangkan dihadapanku ada sebuah rintangan yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang menang?”

Nafisah wafat empat tahun setelah wafatnya Imam Syafi’i, tepatnya Ramadhan tahun 208 Hijriyah. Ia di kuburkan di rumahnya yang kemudian dikenal sebagai daerah Darbus Siba, Mesir. Dalam salah satu riwayat disebutkan, Nafisah wafat saat sedang menjalankan puasa. Orang-orang disekitarnya memaksanya untuk berbuka, tetapi dia berkata, “sungguh mengherankan. Selama tiga puluh tahun aku berdoa pada Allah SWT supaya aku wafat dalam keadaan berpuasa. Apakah harus berbuka sekarang? Ini tidak mungkin.” Kemudian, dia membaca alquran. Ketika sampai pada surah Al-An’am ayat 127, dia wafat.

Sumber: Republika

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply