Industri Halal Harus Dipacu

By: On: test
Industri Halal Harus Dipacu

Dengan populasi Muslim besar, Indonesia selayaknya jadi produsen.

JAKARTA – Industri halal tak boleh dipandang sebelah mata dengan potensi pasar 2,3 triliun dolar AS dan populasi 1,8 miliyar Muslim. Industri halal juga diharapkan tidak dipandang sebagai isu agama secara sempit, melainkan dari segi bisnis yang berkelanjutan.

CEO Halal Development Corporation (HDC) Malaysia, Jamil Bidin menjelaskan, 1,8 miliyar Muslim harus memenuhi kebutuhan dasarnya akan produk halal. Dari potensi permintaan 2,3 triliun dolar AS, 20 persennya saja, kata Jamil, belum terpenuhi. Padahal, menyediakan produk halal adalah kewajiban bersama (fardhu kifayah) komunitas muslim.

Dengan potensi sedemikian besar, Jamil melihat,mustahil hanya bisa ditangani satu negara. Karena itu, dibutuhkan kerja sama. Di Malaysia, HDC di tunjuk jadi ujung tombak pengembangan produk halal. Dengan pasar yang besar, Jamil melihat HDC perlu bermitra dengan pihak strategis seperti Indonesia.

“Industri halal bukan hanya bicara isu agama, tapi juga ekonomi. Benar, kita memenuhli kewajiban agama, tapi sisi bisnisnyapun amat besar,” ungkap Jamil di Jakarta, pekan lalu.

Melihat populasi muslim yang terus tumbuh, industri halal adalah industri berkelanjutan. “amat rugi kalau tidak memerhatikan industri  ini dari sisi ekonomi,” tegas Jamil.

Ekspor produk halal sendiri menyumbang 10 miliar dolar AS bagi ekonomi Malaysia, dan menyerap 220 ribu tenaga kerja.                                                                                                                                                                                                                                                                                           Direkrut LPPOM MUI, Lukmanul Hakim mengungkapkan, Indonesia baru menyadari pentingnya perhatian lebih pada produk halal pada 1989, saat muncul isu kemungkinan adanya kandungan non halal pada produk susu. Namun, halal masih dianggap sacral, sehingga saat Indonesia masih sibuk soal sertifikasi halal, Malaysia sudah melaju agresif di industri ini.

Seiring tren global, halal sudah di pandang sebagai nilai tambah kompetitif dan tak bisa dielakan. “Kesakralan ini masih tetap ada. Setiap ada isu halal atas satu produk di Indonesia, bisnis produsennya pasti terganggu. Maka jangan main-main dengan isu halal,”ungkap  Lukmanul.

Dengan standarisasi yang ada, masih ada yang merasa sulit melakukan sertifikasi halal MUI. Padahal, yang dijaga MUI bukan Cuma soal bisnis, tapi perlindungan masyarakat.

Wakil Ketua KADIN, Ilham Habibie, mengakui Malaysia sudah di depan Indonesia dalam pengembangan industri halal. Kini, tak bisa di pungkiri bahwa halal telah jadi gaya hidup.

Dengan populasi Muslim 80 persen hingga 85 persen dari 250 juta jiwa, Indonesia selayaknya tak hanya jadi pasar. Akan tetapi juga jadi pemain utama yaitu produsen. Lahirnya Undang-Undang Nomor 33/2014 tentang jaminan Produk Halal (UUJPH) masih menyisakan pekerjaan rumah pada peraturan praktisnya, agar undang-undang tersebut bisa di implementasikan.

Pasar produk halal kini mencapai 11 persen secara global. Pasar yang besar ini masih didominasi produk pangan, farmasi dan kesehatan, serta kosmetik. Maka, jaminan kualitas karena itu yang akan diapresiasi konsumen.

Karena kualitas itu pula, Ilham menggarisbawahi bahwa produk halal bisa digunakan siapa saja. Maka, sasaran produk halal bukan hanya komunitas Muslim, tapi juga non-Muslim. Di pasar global, Kawasan ASEAN dan Kawasan Timur Tengah-Afrika Utara (MENA) adalah konsumen utama dengan total konsumen lebih dari satu miliar jiwa. “Dengan potensi yang besar itu kita bisa tetap berkompetisi sehat sekaligus tetap berkooperasi. Inilah kooptasi,” ungkap Ilham.

Sementara itu, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC bekerjasama dengan PT Jakarta Industrial Istate Pulogadung (JIEP) menandatangani Nota kesepakatan Bersama untuk membangun halal Hub di kawasan JIEP.

Direktur Utama PT Multi Terminal Indonesia (MTI), Tony Hajar Andenoworih menjelaskan, Halal Hub merupakan transit area untuk produk-produk dari negara-negara non-Muslim dengan tujuan ke negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia. Tony menyebutkan, keseluruhan dari Halal Hub ini nantinya adalah integrasi dari Halal Port, Halal Zone (Halal Warehouse dan Halal Moslem Fashion Hub), dan penerapan konsep Halal Logistics dan Halal Supply Chain Management.

 

Sumber Republika

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply