by

Jualan Hijab, Hindari Nama Arab

Bisnis fashion hijab menjadi bidang usaha yang kian banyak pamainnya. Mulai ibu rumah tangga hingga fashionista. Salah seorang pionir bisnis moslem modest wear itu adalah Temi Sumarlin melalui label Temiko.

Bisnis fashion digeluti Temi pada 2004 saat masih menjadi mahasiswa jurnalistik di Universitas Padjajaran. Temi yang berbadan kecil kerap sulit mencari baju yang ukurannya pas sehingga baju ukurannya standar sering di potongkan kepada penjahit. Kesulitan tersebut memberinya ide untuk merintis bisnis fashion khusus size kecil.

Nama udara saat menjadi penyiar di Sky FM Bandung, Temiko, dijadikan label lini Fashion-nya. “karena mudah diingat dan mudah diucapkan serta sounds like japanese name, jadi ya sudah pakai nama itu aja.” Kata pemimpin redaksi salah satu majalas fashion tersebut pada pekan lalu. Nama bernuansa jrpang dijadikan label sebagai pembeda dengan butik baju-baju muslim yang kerap menggunakan label bernuansa Arab untuk moslem modest wear. “karena islam bukan Arab,” tuturnya. Selama lima tahun, Temiko mengeluarkan baju-baju modern. Baru pada 2009, Temiko berfokus pada bisnis fashion hijab yang bertepatan dengan keputusan Temi menggunakan hijab. Meski berubah segmentasi, Temi tidak menemukan kesulitan.

Dia berfokus melayani urban muslimah. “Banyak sekali muslimah berhijab yang bekerja dan memerlukan pakaian modest yang tetap chic. Stylish tapi tetap dalam koridor syariah,” ungkap perempuan 32 tahun tersebut. Konsep casual dan chic menjadi kekuatan desain Temiko.

Seluruh desainnya dibuat clean cut dan elegan, tapi tetap memenuhi ketentuan syariah. Temi kerap membuat pattern print khusus. Warna-warna yang digunakan cenderung soft dan earthy color. “itu yang membuat produk kami selalu berbeda dengan lainnya”, tuturmya. Perempuan asal Bandung tersebut mengakui bahwa dirinya berbeda dengan sahabatnya, desainer dan pemilik label fashion hijab tenar Dian Pelangi yang jago menggambar. Modalnya hanya tertarik pada seluruh aspek bisnis fashion sejak bangku sekolah menengah. Invistasi awalnya hanya mencapai 4 juta. Namun, berkat kegemarannya berinovasi, Temi berhasil menangkap peluang pasar.

Cukup sebulan, Temi sudah balik modal. Berikutnya,dia berhasil menangguk untung lumayan besar.”awalnya, saya memperkenalkan produk di facebook, kemudian merambah ke offline store dan instagram. Saya juga banyak mengikuti beberapa event fashion, baik skala nasional maupun internasional”, terangnya. Temiko berkembang pesat. Kini sudah ada tiga offline store Temiko dan beberapa partner stockist di indonesia. Temiko juga beredar di Malaysia, brunei darusssalam, bahkan Tokyo. Pada Oktober mendatang, Temiko masuk offline store di Bassel, Swiss. Selain inovasi, Temi sangat mengandalkan tim kerja yang solid untuk mewujudkan kesuksesan Temiko. “dengan tim yang solid, kami tidak di pusingkan dengan pengekor. Kami sudah terlalu disibukkan dengan inovasi, inovasi, dan inovasi.” Imbuhnya.

(Sumber : jawapos)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed