by

Kalangan Perguruan Tinggi Terlibat Lebih Dalam Pada Halal

Untuk meningkatkan pelayanan di bidang penelitian ilmiah dan audit halal, LPPOM MUI, menjalin kerja sama dengan kalangan perguruan Tinggi. Apa saja cakupannya?

Perlahan tapi pasti, keterlibatan kalangan perguruan tinggi terhadap masalah halal di Indonesia semakin lama semakin tinggi. Kini, telah ada sejumlah perguruan tinggi yang menjalin kerjasama  dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majlis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), baik dalam hal penelitian ilmiah tentang halal maupun menyangkut pelaksanaan audit halal. Sejak awal berdirinya 24 tahun yang lalu, LPPOM MUI memang tak bisa lepas dari dunia akademisi. Di bidang kajian dan audit halal, untuk mendukung tugas ini LPPOM MUI memerlukan tenaga peneliti yang juga bertugas sebagai auditor dari berbagai bidang keahlian yang diperlukan seperti Teknologi Pangan, Teknik Industri, kimia, biokimia, farmasi, dan lain sebagainya.

Dukungan kajian kehalalan ini juga diperoleh dari berbagai kampus, misalnya saja sejak tahun 1993 MUI bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Masukan dari LPPOM MUI yang melakukan penelitian dalam bentuk audit terhadap suatu produk ini kemudian dilaporkan kepada Komisi Fatwa halal suatu produk. Kerjasama MUI dengan IPB ini dituangkan dalam naskah Piagam Kerjasama Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia dengan Rekor Institut Pertanian Bogor Nomor 023/PT39.H/H/1993 dan 705/MUI/XI/1993 yang ditanda tangani ketua Umum MUI saat itu, K.H. Hasan Basri dan Rektor IPB yang ketika itu dijabat oleh Prof. Dr. Ir. H. Sitanala Arsyad. Dalam pernyataan piagam tyersebut, IPB berperan dalam menyediakan dan mengizinkan keterlibatan para tenaga ahli, penggunaan perlengkapan laborarium, dan fasilitas-fasilitas lain yang terkait yang dimiliki IPB. Atas dasar piagam kerjasama ini sejak tahun 1993 IPB menyediakan fasilitas kantor Auditor, yang umumnya juga para peneliti di IPB.

Dalam perjalanannya, seiring dengan perkembangan teknologi di suatu sisi dan semakin tingginya intensitas kegiatannya, LPPOM MUI menggandeng beberapa perguruan tinggi lainnya. Direktur LPPOM MUI, Ir. Lukmanul Hakim, M.Si menjelaskan bahwa kalangan perguruan tinggi memiliki peran sangat strategis di bidang halal. Dari sisi syariah, perguruan tinggi sangat diharapkan mampu melakukan penggalian sumber hukum Islam untuk menjawab persoalan yang muncul berkaitan dengan status hukum kehalalan produk. Sedangkan dari sisi sains dan teknologi, kalangan kampus dapat membangun kesadaran atau mengembangkan mata kuliah tertentu yang berbasis pengetahuan kehalalan. Perkembangan teknologi di kalangan perguruan tinggi juga Dapat  digunakan untuk menjawab persoalan yang berkaitan dengan produk halal. Atas dasar pertimbangan itulah, LPPOM MUI terus membuka pintu kerja sama dengan kalangan kampus, diantaranya dengan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta, Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah jakarta, dan dengan Universitas Djuanda (Unida) Bogor. Dengan Uhamka, melalui riset Fakultas Farmasi dan sains yang dimilikinya, Uhamka akan mengkaji kehalalan produk obat-obatan dan kosmetika di Indonesia. Kerjasama tersebut di tanda tangani di kampus Uhamka, Jakarta pada 12 Desember 2012 bersamaan denagan peletakan batu pertama pembangunan Laboratorium Farmasi dan Sains yang juga akan dimanfaatkan bersama dengan LPPOM MUI.

Rektor Uhamka Prof Dr Suyatno M.Pd, mengatakan, kerjs sama dengan LPPOM MUI ini sebagai respon terhadap maraknya industri obat-obatan serta keinginan masyarakat mendapat perlindungan untuk kehalalan produk, di sisi lain LPPOM MUI adalah penyangga umat dalam mengkonsumsi produk halal. Pihaknya sudah menyeleksi 15 tenaga auditor yang berasal dari dosen-dosen Uhamka dan siap turun ke lapangan untuk memeriksa produk-produk halal, setelah memperoleh pembekalan dari LPPOM MUI. “Obat dan Kosmetik punya pasar sangat besar di Indonesia tapi kebanyakan tidak terjamin kehalalannya, Uhamka dinilai punya kemampuan mengkaji soal ini,” kata Suyatno. Dalam kaitannya dengan kerjasama tersebut Uhamka, ujarnya, Uhamka sudah menyiapkan dana pembangunan laboratorium uji halal pad aobat dan kosmetika senilai Rp 2-3 miliar, dan sedang mendata obat dan kosmetika yang akan dikaji kehalalannya. Kerja sama antara LPPOM MUI dangan Uhamka mencangkup bidang pengkajian dan penelitian yang merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman atau memorandum of understanding  (MOU) yang telah ditandatangani tahun lalu. Sedangkan mengenai laboratorium, katanya, akan digunakan untuk pemeriksaan kehalalan produk obat-obatan dan kosmetika yang beredar di Indonesia.

Direktur LPPOM MUI, Ir. Lukmanul Hakim,M.Si menandaskan, pihaknya sedang berusaha meningkatkan pelayanan kepada umat terkait pemeriksaan produk-produk halal. “Gayung bersambut, saat itu Uhamka juga sedang menguatkan Fakultas Farmasi,” katanya. Dewngan ditanda tangani nya perjanjian kerjasama ini, kata Lukmanul Hakim, secara resmi Uhamka menjadi salah satu Universitas yang ditunjuk sebagaimitra LPPOM MUI dalam kegiatan penelitian, sosialisasi dan audit obat-obatan dan kosmetik halal di Indonesia. Sebelumnya, LPPOM MUI juga menandatangani kerjasama dengan Universitas Djuanda(Unida) Bogor, bersamaan peresmian pembukaan Fakultas Ilmu pangan Halal di kampus tersebut. Peresmian ini diawali denagn seminar Internasional bertajuk Halal is a New Frontier for Global Trading. Dalam acara tersebut juga hadir Direktur Pusat Sains Halal Universitas Chulalongkorn, Thailand, Prof Winai Dahlan, yang menjadi pembicara utama seminar.

Rekor Unida, Dr. H. Martin Roestamy, SH, MH menegaskan, sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia, Indonesia diharapkan dapat menjadi sentral halal dunia dengan didikarinya World Halal Food Council di Jakarta pada 1999. Universitas Djuanda dengan Fakultas Ilmu pangan halal, sambungnya, akan menjadi pionir dalam mendukung ketersediaan produk halal bagi konsumen muslim. Sementara itu, kerjasama dengan UIN jakarta dilakukan antara LPPOM MUI dengan pusat pengembangan Science dan teknologi (Pusbangsitek). Kerjasama antara LPPOM MUI dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah diharapakan memberikan dampak positif bagi pangan halal Indonesia. Perkembangan teknologi dikalangan perguruan tinggi juga dapat digunakan untuk menjawab persoalan yang berkaitan dengan produk halal melalui riset.

Direktur Pusbangsitek UIN, Dr. Ujang maman Kh, mengemukakan jika Fasilitas Saintek UIN sudah memiliki laboratorium pangan terpadu. Laboratorium tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk meneliti pangan halal. “Melalui kerja sama dengan LPPOM MUI diharapkan saintek UIN dapat lebih banyak melakukan penelitian tentang pangan halal, serta UIN dapat menyediakan tenaga-tenaga auditor halal,” jelas Dr. Ujang. Sedangkan Pembantu Rektor IV UIN, Dr.Djamhari Makruf, MA, mengatakan, institusi pendidikan menjadi salah satu penopang kuat dalam sosialisasi dan penelitian halal. “Dengan keilmuan yang dimiliki, kalangan kampus diharapkan dapat berperan aktif dalam melakukan penelitian dan berbagai upaya untuk kepentingan halal,” ujarnya. Jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi juga telah dilakukan LPPOM MUI di tingkat provinsi. Diantaranya LPPOM Jatim dengan Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya; LPPOM MUI Sumut dengan Universitas Sumatra Utara.

Sumber: Jurnal Halal

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed