by

Keunikan dari Masjid Agung Lhasa Tibet

Detikhalal.com — Masjid Agung Lhasa Tibet dikenal dengan nama Masjid Hebalin, ornamen gerbang Masjid Agung Lhasa Tibet didominasi dengan warna merah, lukisan flora, dan atap khas yang terdiri atas tiga undakan atap.

Perbedaan Masjid Agung Lhasa Tibet dengan bangunan-bagunan tempat ibadah agama lain adalah papan nama besar dengan ukuran 1,5 x 1 meter. Tulisan pada papan berwarna pekat ini menggunakan tiga aksara sekaligus, yaitu aksara Arab serta dua aksara setempat, yang jika diartikan kurang lebih Masjid Agung Lhasa di Tibet.

Masjid dengan total bangunan utama seluas 1.300 meter persegi ini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung. Fasilitas tersebut terdiri atas ruang shalat utama dan bangunan penunjang, termasuk bangunan bunker, menara air, kamar mandi, tempat wudhu, dan sebagainya.  Ruang utama shalat memiliki luas 285 meter persegi, terdiri atas ruang inti dan ruang terbuka. Gedung bunker atau gedung Xuanli merupakan bangunan utama masjid ini.

Jika melihat bagian dalam Masjid Agung Lhasa memang terlihat sederhana jauh berbeda dengan bagian eksterior masjid yang banyak memasang ornamen dan desain-desain unik dan terkadang mewah. Lantai masjid ini terbuat dari kayu yang ditutupi permadani berwarna merah berpola shaf untuk menyamakan barisan pada saat shalat. Hiasan yang terdapat pada interior masjid ini juga terlihat sederhana. Di sebelah kanan-kiri mimbar terpampang gambar Masjid Al-Haram dalam ukuran besar.

Hal yang paling unik di Masjid ini adalah adanya tasbih yang banyak bertebaran di permadani yang  disediakan oleh pengurus masjid untuk para jamaah.  Konon, kebiasaan Muslim Tibet bertasbih dengan suara yang agak keras tidak seperti di Indonesia yang biasanya bertasbih dengan suara nyaris tak terdengar.

Masjid yang semula berdiri dengan luas hanya 200 meter persegi ini, mengalami beberapa kali fase renovasi. Misalnya pada tahun 1793,  komunitas Muslim HUI sebagai etnis terbanyak di wilayah itu menambah luas masjid.  Pada abad modern, masjid dengan bentuk vertikal ini direnovasi pada maret 2008. Pada saat itu, kawasan Muslim di Hebalin termasuk Masjid Agung Lhasa ini sempat dirusak massa pendemo anti-Cina di Tibet.

Kawasan Hebalin dan Masjid Agung mengalami kerusakan di sana-sini akibat rusuh massa. Beruntungnya polisi sempat menutup kawasan tersebut dan melarang siapa pun masuk ke sana kecuali warga asli Hebalin dan Muslim dari area lain yang akan menunaikan shalat di Masjid Agung. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalkan kerusakan lebih parah lagi.

 

Seperti dilansir Republika

This content is restricted to site members. If you are an existing user, please log in. New users may register below.

Existing Users Log In
   
New User Registration
*Required field

News Feed