Menabung dari Zaman Sukarno untuk Berhaji

By: On: test
Menabung dari Zaman Sukarno untuk Berhaji

Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syariika lak. (Aku datang memenuhi panggilanmu, ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu, tiada sekutu bagimu, aku datang memenuhi panggilanmu. Sesungguhnya segala nikmat dan segenap kekuasaan adalah milikmu, dan tiada sekutu bagimu).

Doa itulah yang sebentar lagi akan diucapkan Ambari (96 tahun), warga jalan Pelandakan Rt. 04/07, kelurahan Pelandakan, kecamatan Harjamukti, kota Cirebon, di Tanah Suci. Selama ini, doa tersebut selalu menghiasi hari-harinya selama 66 tahun terakhir.

Dengan segala keterbatasannya sebagai buruh tani, niatnya untuk pergi berhaji memang tak mudah terealisasi. Namun, tekadnya yang kuat untuk dapat memenuhi panggilan Allah SWT membuat Ambari tak berputus asa.

Sejak 1949, pria kelahiran 1920 itu selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk di tabung agar dapat berangkat ke tanah suci. Sedangkan, sebagian penghasilan lainnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. “Kakek buyut sampai ayah saya sudah haji. Saya juga sangat ingin berhaji.” Tutur Ambari saat ditemui di rumahnya yang sederhana, akhir pekan kemarin.

Sebagian uang hasil jerih payahnya itu ditabungnya di dalam celengan dari kaleng yang dibuatnya sendiri. Setelah itu, celengan tersebut dikuburnya kedalam tanah supaya aman. Hal itu terus dilakukannya hingga 2013 saat ia merasa yakin tabungannya sudah cukup untuk membayar biaya pendaftaran haji.

Saat celengan dibuka, tentu sebagian uang yang ditabungnya sejak zaman Presiden Sukarno itu sudah ada yang sudah tidak berlaku lagi. Uang tersebut telah menjadi uang kuno. Dia pun menjual uang kuno tersebut di pasar loak dikawasan Pasar Kanoman, Kota Cirebon.

Dari seluruh hasil tabungannya, Ambari berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 50 juta. Sekitar Rp. 35 juta digunakannya untuk mendaftar haji.”Sisanya saya gunakan untuk memenuhi keperluan hidup,” tutur Ambari.

Tahu ini, dengan izin Allah SWT, Ambari akhirnya akan menunaikan Ibadah haji. Sayang, dia hanya akan berangkat seorang diri karena sang istri, Samuna, telah meninggal dunia pada 2014.

Selain hanya bisa berangkat seorang diri, Ambaripun dihadapkan pada persoalan lain. Dia tak memiliki ongkos untuk bekal berangkat haji. Meskipun begitu, Ambari tetap tak patah semangat. Dia menyerahkan persoalan itu kepada Allah SWT. “lillahita’ala bae. (lillahita’ala saja),” tutur Ambari dalam bahasa Cirebon.

Semangatnya untuk berhaji bukan tanpa dasar. Sejak kecil, dia selalu mendengar kisah orang menunaikan ibadah haji. Mereka bersemangat karena dapat beribadah di tempat yang bersejarah. Makkah, misalkan, memiliki masjid Alharam. Tempat sujud itu pernah dikunjungi Rasulullah untuk beribadah, seperti mengelilingi ka’bah (tawaf) atau pun shalat.

Selain itu, masyarakat yang menunaikan ibadah haji pasti mengunjungi masjid Nabawi. Mesjid berkubah hijau itu berdekatan dengan Rasulullah, sosok yang pertama kali membawa Islam ke dunia ini. Mereka yang beribadah di dua mesjid tersebut akan mendapatkan pahala jauh lebih besar di bandingkan dengan beribadah di masjid selain keduanya. “Saya ingin kesana untuk beribadah,” ujarnya. Rukun Islam ke lima itu diharapkan dapat menghapus dosa.

 

Sumber republik

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply