by

Perbedaan Qurban dan AqiqAH

Qurban dan aqiqah adalah bagian dari syariat Islam. Keduanya memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah dalam rangka memenuhi syariat Islam dan bisa menggunakan hewan dari jenis yang sama. Namun, apakah perbedaan di antara keduanya? Berikut ini penjelasan mengenai perbedaan qurban dan aqiqah

Pertama, perbedaan dari sisi tujuan syariat. Qurban disyariatkan dalam rangka memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Sebagaimana sejarah yang termaktub dalam Al-Qur’an bahwa Allah SWT menguji Nabi Ibrahim as dengan perintah untuk menyembelih Nabi Ismail as.

Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pun menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah tersebut. Setelah itu, Allah menggantikannya dengan sembelihan yang besar, yakni berupa domba jantan besar dari surga berwarna putih, bermata bagus, bertanduk dan diikat dengan rumput samurah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat: 37).

Allah SWT juga berfirman, Maka salatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban.” Ibnu Katsir menafsirkan, “maka kerjakanlah salat fardu dan salat sunatmu dengan ikhlas karena Allah dan juga dalam semua gerakmu. Sembahlah Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan sembelihlah korbanmu dengan menyebut nama-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.” (QS Al Kautsar: 2-3).

Sedangkan aqiqah dilaksanakan dalam rangka lahirnya bayi. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW dari Salman bin ‘Amir Adl-Dlabiy, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak itu ada ‘aqiqahnya. Maka sembelihlah binatang ‘aqiqah untuknya dan buanglah kotoran darinya (cukurlah rambutnya)“. (HR. Bukhari).

Kedua, jenis hewan.  Hewan QUrban  adalah unta, sapi, dan kambing. Pendapat ini disepakati oleh Imam Madzhab meskipun ada perbedaan urutan jenis hewan yang lebih utama dipilih jadi hewan qurban. Ada pendapat yang membolehkan qurban selain 3 jenis hewan ternak tersebut yakni Al Hasan bin Shalih.

Sedangkan jenis hewan untuk aqiqah adalah kambing. Hal ini sesuai hadits Rasulullah SAW, dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berkehendak untuk meng’aqiqahkan anaknya maka kerjakanlah. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding dan untuk anak perempuan satu ekor kambing“. (HR. Ahmad).

Ketiga, jumlah hewan. Jumlah hewan qurban tidak ada batasan, minimal 1 ekor atau lebih. Sedangkan jumlah hewan untuk aqiqah adalah 1 ekor untuk bayi perempuan dan 2 ekor untuk bayi laki-laki.

Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, dari Yusuf bin Mahak bahwasanya orang-orang datang kepada Hafshah binti ‘Abdur Rahman, mereka menanyakan kepadanya tentang ‘aqiqah. Maka Hafshah memberitahukan kepada mereka bahwasanya ‘Aisyah memberitahu kepadanya bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan para shahabat (agar menyembelih ‘aqiqah) bagi anak laki-laki 2 ekor kambing yang sebanding dan untuk anak perempuan 1 ekor kambing. (HR. Tirmidzi).

Keempat, waktu penyembelihan. Waktu penyembelihan qurban adalah pada hari Nahr (Idul Adha). Hal ini sejalan dengan Hadits Rasulullah SAW dari Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anhamenceritakan bahwa Rasulullah SAW  bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih).

Sedangkan pelaksanaan aqiqah adalah pada hari ke-7 dari kelahiran anak. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber’aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)“. (HR. Hakim).

Kelima, jumlah pelaksanaan yang disyariatkan. Qurban bisa dilaksanakan setiap tahun oleh setiap orang. Hal ini sejalan dengan hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672).

Sedangkan aqiqah hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup untuk setiap orangnya. Hal ini sesuai dengan syariat aqiqah yang dilaksanakan dalam rangka penebus atas lahirnya setiap satu bayi sebagaimana Hadits Rasulullah SAW dari Samurah bin Jundab, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak tergadai (tergantung) dengan ‘aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke-7, di hari itu ia dicukur rambutnya dan diberi nama“. (HR. Abu Dawud).

Keenam, pemberian daging. Menurut Ibnu Rusyd, para ulama sepakat bahwa orang yang berkurban diperintahkan untuk ikut memakan daging kurbannya, dan menyedekahkannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Maka makanlah sebagiannya (daging kurban) dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (orang yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. (QS Al Hajj: 36).

Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk memakan sebagian hewan kurbannya, menghadiahkannya dan bershadaqah dengannya. Hal ini adalah masalah yang lapang/longgar dari sisi ukurannya. Namun yang terbaik menurut kebanyakan ulama (sebagaimana termaktub dalam Kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid) adalah sepertiga untuk disimpan, sepertiga untuk didermakan dan sepertiga lagi untuk dimakan. Penerima daging Qurban adalah kaum dhuafa atau faqir dan miskin.

Sedangkan daging aqiqah boleh diberikan kepada siapa saja, terutama kepada tetangga terdekat, baik faqir, miskin maupun orang yang mampu. Namun demikian, pemberian daging aqiqah ini diutamakan kepada orang yang tidak mampu.

Ketujuh, wujud daging yang diberikan. Daging qurban diberikan dalam bentuk daging mentah. Sedangkan pada aqiqah, diberikan dalam bentuk daging masak.

Kedelapan, upah penyembelih. Seseorang yang menyembelih hewan qurban tidak diperkenankan meminta upah atas pekerjaannya. Sedangkan pada hewan aqiqah, penyembelihnya boleh minta upah atas pekerjaannya.

Demikian perbedaan qurban dan aqiqah. Semoga ibadah qurban dan aqiqah yang kita laksanakan sesuai syariah Islam serta bernilai pahala ritual dan sosial. Amin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed