Pondok Pesantren (Ponpes) Minhaajurrosyiddin

Pondok Pesantren (Ponpes) Minhaajurrosyiddin

Cetak Bakal Ulama dengan Tri Sukses

Selain bekal agama, santri mendapat ilmu kemandirian.

Sejak didirikan pada 1995 silam, Pondok Pesantren (Ponpes) Minhaajurrosyiddin, yang berada di Lubang Buaya, Jakarta Timur, memiliki visi untuk mencetak santri yang kelak akan menjadi alim ulama. Hal tersebut diupayakan melalui program “Tri Sukses”, yakni pendidikan yang mencakup ajaran agama (tafakufiddin), akhlak, serta kemandirian. Ketua Ponpes Minhaajurrosyiddin Muhammad Asyari Akbar mengungkapkan, “Tri Sukses” memang program yang sengaja dirancang untuk para santri Ponpes Minhaajurrosyiddin. Dengan program tersebut, para santri tidak hanya dididik untuk menguasai ilmu agama semata, tetapi juga dilatih agar menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.

Terkait aspek pertama dalam tri sukses, yakni pendidikan agama (tafakufiddin), Muhammad menilai, hal tersebut merupakan corak yang memang wajib dimiliki ponpes. “jadi disini kita mengajarkan agar para santri mengerti dan memahami betul masalah syariat agama Islam dengan baik dan benar, serta sejalan dengan prinsip ahlus sunah wal jamaah,” kata dia kepada Republik, jumat (13/8).

Para pengajar Ponpes Minhaajurrosyiddin memanfaatkan beberapa kitab sebagai sumber materi. Antara lain Alquran, kitab hadis, dan kitab kuning. Ia menilai, tafakufiddin  merupakan aspek vital dan utama dalam pendidikan ponpes, termasuk di Minhaajurrosyiddin. “karena targetnya adalah mencetak ulama yang fakih atau paham tentang seluk-beluk agama islam,” ujar Muhammad. Pada aspek kedua, Ponpes Minhaajurrosyiddin memfokuskan pendidikannya pada pembentukan akhlak atau tabiat yang sesuai syariat.

Dalam hal ini, Ponpes Minhaajurrosyiddin menekankan enam akhlak yang harus hidup dalam diri para santri. Muhammad menjelaskan, enam akhlak yang ditekankan dalam hal ini, tiga diantaranya untuk diterapkan pada pribadi. Sedangkan tiga lainnya untuk di aplikasikan ketika para santri hidup berkelompok di lingkungannya masing-masing. Tiga akhlak pribadi yang harus hidup dalam didiri santri, lanjut Muhammad, adalah jujur, amanah, dan hemat atau tidak menghamburkan uang hanya untuk kebutuhan duniawi. Terkait jujur, menurut dia, sikap tersebut memang patut ditekankan kepada para santri, “karena saya menilai, ketidakjujuran adalah pangkal dari kerusakan diri. Kalau sudah tidak jujur begitu mudah manusia terseret pada perbuatan negatif atau maksiat, yang akan mengantar mereka ke neraka,” tuturnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, penting menekankan kepada para santri untuk bisa berlaku jujur. “kita menegaskan (kepada para santri) bahwa semua yang mereka lakukan diketahui Allah SWT. Maka sudah seharusnya mereka menerapkan kejujuran dalam hidupnya,” kata Muhammad. Selain itu, Ponpes Minhaajurrosyiddin juga mendidik santri agar menjadi pribadi yang amanah atau dapat dipercaya. Sehingga bila di amanahkan apa pun, dia tidak akan berani menyelewengkan. Lalu, akhlak terakhir yang perlu di anut para santri adalah  muzhid mujhid. “Dalam hal ini, santri harus mampu bersikap hemat. Seperti sebuah hadis mengatakan, seorang Muslim harus tetap sederhana walaupun dalam keadaan (materi) berlimpah. Sebab, Allah SWT juga membenci hal-hal yang berlebihan,” ujar Muhammad.

Untuk memastikan agar para santri menerapkan tiga akhlak pribadi tersebut, lanjutnya, pengajar-pengajar Ponpes Minhaajurrosyiddin selalu memberikan dalil-dalil yang relevan. Sebab bagaimanapun, Muhammad menilai, ketika ingin berbuat amal shaleh, harus ada landasan ilmu sebagai pijakannya. Sedangkan tiga akhlak lainnya, yang perlu diterapkan para santri yang hidup berkelompok di lingkungannya adalah rukun, kompak, dan kerja sama yang baik. Rukun, dalam konteks ini, kata Muhammad adalah tidak semata-mata menjaga hubungan yang baik dengan orang lain. “tapi, hati para santri juga mesti rukun. Kebaikan yang tampak harus sama dengan kebaikan yang ada dalam hati,” katanya. Kemudian, terkait kelompok dan menjalin kerja sama yang baik antar sesama Muslim, adalah sikap yang harus tertanam dalam diri santri.

Menurut Muhammad, hal tersebut semata-mata untuk mengingatkan mereka bahwa manusia hakikatnya adalah makhluk sosial. Lalu untuk kemandirian, ucap Muhammad, Ponpes Minhaajurrosyiddin menyediakan beberapa fasilitas untuk mengembangkan keahlian para santri. Antara lain, bengkel mobil, sebidang lahan perkebunan, dan koperasi. “untuk perkebunan dan koperasi itu langsung dikelola para santri. Sedangkan bengkel, kami memiliki sumber daya manusia yang dapat membimbing mereka untuk mengenal dan mengetahui cara memperbaiki mesin mobil,” katanya.

Muhammad menilai, dengan program Tri Sukses, pendidikan di Ponpes Minhaajurrosyiddin menjadi komprehensif. Di satu sisi, pendidikan agama dan akhlak untuk para santri dapat terpenuhi. Tapi di sisi lain, kebutuhan santri untuk mengembangkan potensi lainnya juga tidak terabaikan.

Sumber: republika

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply