by

Teladan Nabi dalam Tumakninah

Salah satu cara meraih shalat khusyuk adalah tumakninah. Tumakninah adalah kondisi diam sebentar ( tidak tergesa-gesa) dalam melakukan gerakan shalat. Berikut pemaparan Ustad Abu  Sangkan tentang tumakninah yang di ajarkan Rasulullah Saw.

Peran tumakninah begitu penting. Bahkan menurut Mazhab Malikyah dan Hambaliyah, tumakninah termasuk salah satu rukun shalat. Di dalam mazhab Syafiiyah juga mengharuskan tumakninah itu ada di dalam sujud dan rukuk. Sehingga ketika rukun shalat itu tidak di kerjakan sebab karena kebodohan atau kesengajaan atau lupa, maka shalatnya tidak sah. Dikatakan ustad Abu Sangkan, Rasulullah dalam shalatnya melakukan tumakninah, yakni sikap tenang atau diam sejenak sehingga dapat menyempurnakan posisi tulang, dan organ tubuh lainnya. “jadi dalam shalat, tumakninah itu ukurannya adalah rileks dan tenang, itu teladan dari nabi,”

Ukuran tumakninah

Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda, “ apabila kamu rukuk, letakanlah kedua telapak tanganmu pada lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jarimu, lalu diamlah, sehingga setiap anggota badan (ruas tulang belakang) kembali pada tempatnya. ”( HR Ibnu Khuzaimah dan ibnu Hibban) tentang lamanya waktu tumakninah, di contohkan rosulullah Saw kadang melaksanakannya cukup lama, seperti digambarkan dalam sebuah hadis, ”sesungguhnya anas pernah berkata, sungguh aku tidak shalat dengan kamu sebagaimana aku pernah melihat Rasulullah Saw shalat dengan kami, yaitu apabila mengangkat kepalanya dari sujud, beliau diam sehingga orang-orang menduga bahwa beliau lupa,”( HR Bukhari dan muslim). Dalam riwayat hadis lainnya, ” adakah bagi rasulullah Saw dua kali terdiam tidak menyebut apa-apa ketika membuka shalat (iftitah) dan terdiam selesai membaca Al Fatihah, ”( HR ash habus sunan dan wail bin hajar).

Tunduk dan Pasrah

Dikatakan ustad Abu Sangkan lebih lanjut, kesalahan kebanyakan orang adalah mengira bahwa jumlah bacaan dalam setiap gerakan dhalat itu dijadikan sebagai ukuran waktu selesainya sikap berdiri, sikap rukuk, sikap duduk, maupun sikap sujud, padahal bacaan itu bukanlah sebuah aba-aba dalam shalat, tetapi harus ada tumakninahnya. Ketika tumakninah dilakukan, maka akn tercipta ketenangan. Kemudian ketenangan itu hendaknya diikuti terus sedalam-dalamnya hingga tercipta ketertundukan jiwa. Dijelaskan Ustad abu sangkan, ketertundukan jiwa itu harus diikuti dengan kepasrahan diri, seperti dalam pelaksanaan ibadah wukuf dalam ibadah haji, jamaah haji saat wukuf itu dalam posisi diam dan tenang menanti sambungan (shilatun) dari Allah SWT. “ begitu pula dengan shalat, harus dilakukan atas kehendak Allah, bukan kehendak nafsu,” ujar pria kelahiran 8 mei tahun 1965 di Banyuwangi tersebut.

Allah berfirman ,”dia-lah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada. Dan kepunyaan Allah lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana,” (QS Al Fath 48:4)

Ustad Abu Sangkan menambahkan, jika telah merasakan nikmatnya khusyuk, maka bukan hanya di dalam otak, tetapi di semua neuron tubuh seperti mata, telinga dan sebagainya. ”Nikmatnya di simpan, di–recall (dipanggil kembali) lalu dikunci, sehingga setiap saat kita mudah nyambung dengan Allah,” pungkas Ustad Abu Sangkan.

Sumber : NURANI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed