by

Usai Masuk Islam, Langsung Pilih Berjilbab

Kiki Veranda Putri telah merasakan manisnya iman. Setelah memeluk islam, ia rela meninggalkan aktivitas menyanyi di klub malam dan memutuskan untuk berjilbab. Ia pun kini merasakan ketenangan dalam hidup.

namaku Kiki Veranda Putri. Usiaku saat ini 20 tahun dan sudah bekerja sebagai karyawan swasta. Aku terlahir dari keluarga yang beda agama, ayah seorang ketolik dan ibu seorang muslimah. Ketika usiaku 4 tahun, ibu sering mengajariku membaca Alquran hingga aku mulai bisa mengaji. Namun ketika hendak masuk SD, aku baru mengetahui bahwa aku adalah seorang Katolik. Aku dimasukkan ke SD katolik yang salah satu syaratnya adalah menunjukkan surat baptis. Ternyata sejak lahir umur lima bulan aku sudah di baptis. Namun aku sempat berfikir, jika aku katolik,mengapa ibu mengajariku mengaji? Namun pertanyaan itu tak pernah ada jawaban.

Ditinggal Ibu

Saat kelas 1 SD, ibuku pegi merantau menjadi seorang TKW di hongkong. Otomatis keluarga ayah yang mayoritas katolik merawatku dan kedua adikku. Setiap minggu aku selalu di ajak pergi ke gereja. Hampir semua jamaah gereja mengenalku, karena selain aku aktif dalam kegiatan gereja, tuhan juga memberikan aku anugrah suara yang bagus sehingga sering tampil untuk mengisi acara di gereja. Menginjak usia remaja, pergaulanku mulai berubah. Aku berkenalan dengan seorang pria yang salah. Aku menjadi sering lupa waktu dan pulang larut malam . perhatian dari ayah juga mulai berkurang. Ayah terlalu percaya padaku hingga beliau tidak marah ketika aku mengikuti kegiatan gereja di luar kota hingga menginap beberapa malam. Hal itu membuatku semakin merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang terlarang. Apapun yang kuinginkan harus aku dapatkan walaupun dengan cara yang tidak benar. Aku merasa tidak ada aturan dan hukuman atas perbuatanku.

Penyanyi malam

Hingga suatu hari aku mendapat kabar bahwa ayah di PHK. Sementara ibu tak kunjung kembali ke tanah air. Seketika itu kehidupan ekonomi keluargaku sangat buruk. Aku tak bisa membayar uang sekolah hingga enam bulan. Dari situ aku berfikir untuk mencari pekerjaan. Salah satu teman bernama Lucky menawariku untuk bernyanyi di sebuah klub malam. Awalnya aku ragu, namun karena tuntutan ekonomi, aku menerimanya. Setiap hari aku berangkat malam pulang pagi. Karena tuntutan pekerjaan pula aku juga harus menggunakan busana yang terbuka demi menarik lebih banyak pelanggan. Semua aku lakukan demi mendapatkan uang. Aku sama sekali tidak takut dosa. Selama dua setengah tahun menggeluti dunia malam, lambat laun aku merasa tidak nyaman. Aku merasa tidak tenang dalam menjalani hidup. Teman yang mengajakku untuk bekerja juga merasa kasihan padaku. Dari situ ia mulai memperkenalkan aku dengan islam. Dia memberi pandangan-pandangan tentang islam. Terlebih lagi, setelah di PHK, ayahku juga memutuskan untuk masuk islam. Aku tidak tahu mengapa, namun aku mulai berpikir bahwa orang tuaku muslim, lalu kenapa aku masih katolik.

Berjilbab

Setelah ibu kembali, aku ceritakan semua kegundahan pada ibu. Secara tiba-tiba ibu dan ayah mengajakku ke masjid Al Falah Surabaya, tepatnya bulan juni 2013. Di mesjid itulah aku mengucapkan Syahadat. Setelah resmi menjadi muslimah, aku merasa lega dan tenang dalam menjalani hidup. Semua permasalahan yang aku hadapi selalu aku komunikasikan dengan Allah lewat shalat. Dalam waktu satu bulan, aku sudah bisa shalat. Bahkan aku bisa ikut berpuasa Ramadhan, shalat tarawih, dan ibadah lainnya. Tak lama setelah itu, aku memutuskan untuk berhenti bekerja di klab malam. Aku malu jika harus memperlihatkan aurat yang sebenarnya dalam islam wajib untuk ditutup. Dari situ aku mulai berjilbab demi menyempurnakan keimananku. Setelah beberapa saat aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik yaitu sebagai karyawan di kantor. Gajinya pun terus meningkat, aku percaya, setiap apa yang terjadi padaku adalah kehendak Allah SWT.

sumber Majalah Nurani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed