Waspadai Bahan Karbon Aktif

Waspadai Bahan Karbon Aktif

Dibalik air yang bening bagaikan kristal, atau minyak goreng yang jernih kuning keemasan, dengan aromanya yang khas, jauh dari bau tengik minyak mentah; ada proses penjernihan dan penyerapan bau yang tak diinginkan. Diantaranya menggunakan alat penjernihan dan penyerapan bau dari bahan karbon aktif.

Begitu pula pada industri gula pasir yang dibuat dari air tebu. Pada awalnya, perasan air tebu tampak berwarna pucat dan kotor. Supaya gula bisa putih dan bersih, maka di gunakan karbon aktif untuk menyaring dan menghilangkan kotoran serta warna pucat gula dari perasan tebu tersebut. Memang, pada industri makanan dan obat-obatan, utamanya, bahan karbon aktif di pergunakan sebagai penyaring cairan, menyerap dan menghilangkan warna, bau dan rasa yang tidak enak. Bahan baku karbon atau arang aktif dapat berasal dari bahan nabati seperti kayu dan tempurung kelapa yang di olah menjadi arang. Dan dapat juga berasal dari bahan hewani, terutama tulang hewan yang diolah menjadi arang. ”kalau berasal dari tulang hewan, maka bahan karbon aktif ini harus di cermati dan diteliti dalam proses sertifikasi halal, jangan sampai menggunakan bahan yang berasal dari tulang babi,” Wakil Direktur  LPPOM MUI, Ir,Sumunar Jati wanti-wanti mengingatkan. Menurut Sumunar Jati, pemanfaatan tulang babi menjadi karbon aktif, banyak dilakukan kalangan industri terutama di Eropa, karena ketersediaan bahan dari tulang babi ini relatif berlilmpah dengan harga murah.

Titik Kritis Kehalalan

Sementar itu, auditor senior yang juga mengemban amanat sebagai Kepala Bidang Pembinaan LPPOM MUI Daerah, Ir Nur Wahid M.Si., mengemukakan, karbon aktif di buat dari bahan-bahan organik yang diolah menjadi arang, atau di arangkan. Sumbernya bisa dari kayu, tempurung kelapa, batu bara, dan bisa jua dari tulang. Nah titik kritis kehalalannya adalah dari sumber bahan dalam pembuatan arang atau karbon aktifitu. dan kalau berasal dari tulang hewan yang haram, maka karbon aktifnya pun menjadi najis. Artinya, kalau produk tersebut di pergunakan sebagai alat penyaring atau penjernih air atau minyak, maka air atau minyak yang dihasilkan dari penyaringan dengan karbon aktif itu pun menjadi mutanajis, atau bernajis pula. Untuk industri Indonesia, karbon aktif yang dipergunakan kebanyakan berasal dari bahan tempurung kelapa atau kayu, termasuk juga batu bara.” Tetapi kalau di luar negri, seperti Eropa dan Amerika, apalagi China, kami pernah menemukan beberapa kasus karbon aktif yang berasal dari tulang babi. Terutama pada industri farmasi dan obat-obatan. Karena memang menghendaki penyaringan yang sangat presisi. Ada karbon aktif yang kami pelajari dati spesifikasinya, berasal dari tulang,” ungkapnya.

Limbah Bernilai Ekonomis

Mengapa mereka menggunakan bahan karbon aktif itu dari tulang babi? Sebagai jawabnya, karena secara ekonomis , bahan tulang babi  si negara-negara Eropa maupun china sangat berlimpah, sebagai limbah atau sampah, produk samping dari rumah pemotongan hewan(babi) industri daging babi. Dinegara-negar yang tidak mengharamkan babi itu, daripada limbah tersebut dibuang menjadi masalah, akhirnya di manfaatkan menjadi bahan yang bernilai ekonomis. Di sisi lain, dikawasan Eropa, tempurung kelapa atau kayu juga sulit didapat, suplainya  sangat terbatas, dan dengan harga yang cukup tinggi sehingga dari sisi ekonomi tentu sangat mereka perhitungkan,sementara tulang babi tersedia melimpah, dan dengan harga yang murah. Tentu ini menjadi sangat menggiurkan. Apalagi bagi mereka relatif tidak ada pertimbangan halal-haram dengan kaidah agama seperti yang kita yakini.

Tidak Boleh Ada Intifa’

Para ulama di komisi fatwa (KF) MUI, telah menetapkan fatwa, tidak boleh ada Intifa’ atau pemanfaatan bahan babi dalam proses produksi dan pengolahan produk pangan.” Memang pada asalnya, bahan karbon aktif yang di buat dari bahan nabati tidak ada masalah dalam aspek kehalalannya. Namun kita harus mencermati, tidak boleh ada Intifa’ atau pemanfaatan bahan atau kandungan dari babi sama sekali,” ujar ketua komisi fatwa MUI, Prof.Dr.H. Hasanuddin AF, MA., dengan tegas. Hasanuddin AF menambahkan penjelasannya, keharaman  babi disebutkan di dalam nash secara spesifik: hurrimat’alaykumyl-maytu, waddamu, wa lahmul-khinziir…(diharamkan bagimu(memakan)bangkai, darah, daging babi…”Q.S. 5:3). Penyebutan babi yang khusus ini di dalam al-Qur’an, menurut para ulama berarti pengharamannya bersifat mutlak. Maka tidak boleh ada toleransi dalam pemanfaatan bahan atau kandungan dari babi. Dalam implementasi pada proses produksi  bahan karbon aktif, misalnya, tidak boleh ada penggunaan bahan atau kandungan yang diharamkan ini. Begitu pula Komisi Fatwa tidak dapat menerima  dan tidak akan mengelularkan Sertifikat Halal untuk produk yang dalam prosesnya menggunakan atau memanfaatkan bahan dari babi.

Indentifikasi  untuk mengidentifikasi karbon aktif yang halal atau yang haram maka Ir Nur Wahid M.Si., menjelaskan lagi, pertama tentu harus diketahui bahan asalnya. Kalau bahan nabati, seperti kayu dan tempurung kelapa tentu tidak ada masalah dari sisi kehalalannya. Tidak ada tanda sertifikat  halal pun tidak  masalah. Yang penting ada keterangan tentang asal bahannya. Memang, untuk mengidentifikasi secara fisik, sangat sulit. Karena bahannya telah menjadi karbon atau arang. Dan bahan arang itu, dalam prakteknya sudah tidak bisa dianalisa lagi.

Maka satu satunya cara adalah dengan melihat spesifikasi teknisnya, yang menerangkan tentang asal-usul bahan karbon aktif tersebut. Seperti dengan mempelajari MSDS-nya; yakni material safety data safe, atau data tentang material tersebut. Disitu dijelaskan tentang data keamanan bahan, dan dengan data itu dapat juga ditelusuri asal-usul bahannya, apakah dari nabati atau hewani. Oleh karena itu, proses sertifikasi halal yang dilakukan oleh LPPOM MUI dan penetapan fatwa halal oleh KF MUI merupakan satu usaha untuk memastikan bahan-bahan dan proses yang dilakukan dalam produksi pangan, obat-obatan  dan kosmetika benar-benar tidak mengandung atau menggunakan/memanfaatkan unsur yang haram menurut kaidah syariah.

Sumber : Jurnal Halal

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply